Langsung ke konten utama

Litera

 

Dekontruksi atas Tafsir Radikalisme

 

Pengertian Radikalisme

 

Radikalisme terdiri dari dua gabungan kata yaitu antara “Radikal” dan “isme”. Kata radikal dalam KBBI bermakna :

1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang --;

 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 

 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Radikal pada asalnya adalah serapan dari kata “Radix” (bahasa latin)  yang artinya akar atau dasar. Imbuhan isme membuat kata ini bermakna paham yang ingin kembali pada akar dan atau berpegang teguh pada hal-hal mendasar. Dalam beragama orang yang kembali pada "radix" atau "akar" ingin segala sesuatu berpijak pada akar keyakinan, yaitu prinsip-prinsip mendasar yang menjadi pedoman bagi setiap orang beriman atau beragama. Artinya, sesuai dengan makna kata itu, menjadi radikal, tidak berarti menjadi teroris. Menjadi radikal tidak sama dengan membenarkan kekerasan. Bahkan, kembali ke akar, atau berpijak pada keyakinan dasar agama, merupakan hal lumrah bagi penganut agama.

Istilah ini rupanya terjadi pergeseran makna dari positif menuju negatif sebagaimana yang dicantumkan dalam KBBI dan Wikipedia. KBBI mengartikan Radikalisme dengan beberapa makna :

1 paham atau aliran yang radikal dalam politik; 

2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 

3 sikap ekstrem dalam aliran politik

Sedangkan wikipedia memberikan keterangan lebih eksplisit sebagai berikut;

Radikalisme dapat merujuk kepada:

·         Radikalisme (sejarah), sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme.

·         Radikal (Britania)

·         Republikan Radikal

·         Partai Radikal – sejumlah organisasi politik yang menyebut dirinya Partai Radikal, atau menggunakan kata Radikal sebagai bagian dari namanya.

Keterangan di atas memberikan petunjuk bahwa kini kedua istilah ini berasal dari akar kata yang sama namun menjadi berlainan arti. Sehingga bisa kita katakan, beda radikal dan radikalisme. Istilah yang cenderung negatif ini juga mulai menggerogoti  makna dari kata asalnya. Radikal yang bermakna positif kini mulai dimaknai netral. Penurunan makna ini terang-terangan menggambarkan bahwa nilai positif darinya mulai hilang.  Mari kita lihat tulisan Mitsuo Nakamura yang memilih kata radikal dikala istilah ini dianggap negatif mulai mencuat untuk menggambarkan bahwa NU adalah organisasi yang otonom dan independen, bukan derivasi dari organisasi yang lain.

NU juga mempunyai sikap politik yang kritis, terbuka, dan mendasar menghadapi status quo penguasa ketika itu yaitu presiden Soeharto. NU juga memperlihatkan dengan karakteristik keagamaan yang tetap konsisten. Dengan karakteristiknya yang bersifat mendasar inilah NU disebut radikal. Begitulah kira-kira pencantumannya. Dilihat dari berbagai pengertian secara eksplisit Radikalisme yang negatif hanya digunakan dalam wilayah politik bukan agamis.

Sejarah Radikalisme

Setidaknya di sini akan dipaparkan beberapa poin penting pandangan historis yang disinyalir munculnya istilah radikalisme :

·         Menurut Encyclopædia Britannica, kata "radikal" dalam konteks politik pertama kali digunakan oleh Charles James Fox. Pada tahun 1797, ia mendeklarasikan "reformasi radikal" sistem pemilihan, sehingga istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan yang mendukung reformasi parlemen.

·         Menurut Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Murodi. Ia mengatakan, upaya mengafirkan sudah muncul sejak abad 7-8 masehi. Dia menceritakan, ketika itu terjadi konflik internal dan perebutan kekuasan di banyak negara yang menjadi akar munculnya radikalisme.

·         Pandangan historisitas Islam lebih mengarah kepada kasus pembunuhan umar dan itu dianggap sebagai tindakan radikalisme yang pertama. gerakan radikalisme yang sistematis dan terorganisir baru dimulai setelah terjadinya Perang Shiffin di masa kekuasaan Ali bin Abi Thalib. Hal ini ditandai dengan munculnya sebuah gerakan teologis radikal yang disebut dengan “Khawarij”. Secara etimologis, kata khawarij berasal dari bahasa Arab, yaitu “kharaja” yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. Dari pengertian ini, kata tersebut dapat juga dimaknai sebagai golongan orang Islam atau Muslim yang keuar dari kesatuan umat Islam.

·         Radikalisme (dari bahasa Latin radix yang berarti "akar") adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan yang dimulai di Britania Raya ini meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Begitu "radikalisme" historis mulai terserap dalam perkembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideologi liberal yang progresif.

 

 

Meluruskan tafsir Radikalisme terhadap Islam

1.       Radikalisme sering kali disematkan bersama kata Islam. Maksud dari kata Radikal tersebut menyimpan makna terorisme dibaliknya. Padahal terorisme dan radikalisme sangat jauh berbeda bila ditinjau dari sisi akar bahasanya. Teror atau Terorisme selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Sedangkan radikalisme hanya sebuah propaganda orang-orang kafir untuk menjatuhkan islam sehingga disetarakan dengan terorisme.

 

2.       Pemahaman yang salah akan konsep jihad sehingga dikatakan sebagai tindak radikal umat Islam. Padahal kandungan ayat-ayat alquran menekankan konsep jihad sebagai perjuangan yang inheren dengan kesulitan dan kerumitan menuju kehidupan yang lebih baik. Berjuang melawan hawa nafsu di dalam diri sendiri dalam rangka mencapai keutamaan hidup, kemakmuran, kesejahteraan baik secara ekonomi, politik dan sosial budaya juga merupakan jihad. Jadi tidak mungkin hal seperti ini tergolong tindakan yang mereka maknai ekstremis.

 

3.       Sekali lagi dari pengertian radikal maupun radikakisme kita dapat mengetahui bahwa istilah tersebut adalah istilah yang digunakan dalam menunjukkan politisme. Sedangkan penunjukannya kepada agama tentunya sangat salah kaprah. Apalagi istilah ini ditujukan kepada Islam demi mengganti istilah fundamental yang lebih mengakar kepada Kristen. Jadi, antara Fundamental dan radikal sebenarnya sama namun demi merusak citra Islam kini arah maknanya lebih menggambarkan perilaku negatif.

Komentar

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.