22 Maret 2024
SMAN 1 Peranjan. Bangunan sekolahnya tersusun rapi dan simetris.
Dari sisi jalan, gerbang bambu yang pintunya terbuka lebar tampak menjadi akses
utama menuju halaman dalam. Di sisi kanan gerbang terdapat plang besar berwarna
putih dengan bingkai biru muda, menampilkan identitas sekolah secara jelas. Di
halamannya yang berumput kerontang, tiang bendera menjulang tinggi mengibar merah
putih amat tenang.
Memasuki area dalam, halaman sekolah cukup luas terbagi menjadi
beberapa area, seperti lapangan upacara, area parkir dan area olahraga. Siang
itu hiruk pikuk siswa menghiasi halaman sekolah. Ada yang bermain sepak bola,
nongkrong menikmati cemilan dan kejar-kejaran penuh gurau. Wajah-wajah mereka
terpasang riang sekali meski di bawah terik membuncah.
Bangunan sekolah terdiri dari dua blok utama yang masing-masing
memiliki dua lantai. Seluruh bangunan menggunakan cat biru muda, dipadu dengan
atap genteng merah yang memberikan kesan tenang dan khas.
Pada lantai dasar bangunan terlihat beberapa ruang kelas dan ruang guru
dengan deretan pilar penyangga. Di lantai atasnya terdapat lorong panjang
dengan pagar dinding rendah, memungkinkan siswa bergerak antar kelas.
Vegetasi di halaman cukup minimal, namun beberapa tanaman hias
seperti cemara kecil atau pohon dalam pot ditempatkan di sepanjang dinding kiri
dan kanan, memberi sentuhan hijau yang menyeimbangkan dominasi warna bangunan.
Jam dinding yang terpampang di atas pintu kantor sekolah
menunjukkan pukul 12:30. Pak Badrun, guru sepuh beruban utuh, dengan kumis
perak menjungat tampak bangkit dari sofa kantor lalu keluar membawa pentungan
kecil. Meski sudah sepuh badannya belum bungkuk kalau berdiri. Bola matanya
yang besar, hidungnya yang mancung dan pipinya yang padat membentuk wajah
sangar dan mengintimidasi. Bahkan langkahnya tegas seperti komandan perang yang menggertak. Beberapa
langkah di depan pintu masuk, ia pukul lonceng yang menggantung dekat tiang
saka kantor. Dipukulnya tiga kali menggelegar.
TENG! TENG! TENG!
Tiga kali pentungan itu mengisyaratkan berakhirnya waktu istirahat.
Mendengar lonceng dibunyikan. Sontak, suara sepatu menghentak-hentak tanah
bergemuruh dari segala penjuru. Memecah kesunyian. Semarak ricuh menggema dari
gerbang masuk, kantin, maupun tempat parkir. Akibatnya debu-debu merebak
kemana-mana.
Para siswa berbondong-bondong masuk ke kelas. Mereka berlarian
sembari memperhatikan Pak Badrun yang masih mengawas melotot seperti Harimau.
Anak-anak takut sekali kena target terkamnya.
Di lorong sekolah, Bu Sekar, mulai keluar dari kantornya, bergerak
cepat guna menertibkan siswa. Ia berkeliling di halaman. Meminta siswa-siswanya
agar cepat bergegas menuju kelas sebelum guru mapel tiba. Siapapun yang tampak
melangkah malas siap-siap saja kena bentak.
“Ayo! Ayo ayo masuk! Deni!
Masuk! “
Suaranya lantang dan tegas. Bak seorang jenderal yang
mendeklarasikan perang. Tak kalah sangar dari Pak Badrun. Kuping-kuping para
siswa sampai bergetar mendengarnya. Takut diciduk sang jenderal, mereka pun
lari terbirit-birit menyelamatkan diri ke dalam kelas. Tak satu pun siswa mau
berurusan dengan Bu Sekar. Sebab ia tak segan menjebloskan siswa ke toilet
sekolah lalu dipaksa membersihkannya sampai kinclong. Mana ada siswa yang mau
berurusan dengan tempat horor itu. Sudah kumuh, berbau pesing pula. Aromanya
menyengat menusuk hidung. Sekali menciumnya badan siapapun pasti langsung
begidik tak karuan.
“ Hoy! Hoy! Cepetan masuk! “
JIUT! Satu siswa kena cubit karena kalah gesit dengan Bu Sekar.
Cubitannya tidak keras, namun cukup membuat jantung berdebar ketakutan.
“ Aduh Bu! “
Pokoknya bagi siswa, Bu Sekar adalah seorang antagonis. Musuh
terbesar bagi para murid urakan bertelinga beton. Ia adalah seorang lawan yang
tak terkalahkan. Memasang wajah memelas atau seimut apapun takan membuatnya iba
kalau memang tak punya niat bertaubat. Jangan pernah menilai dari tubuhnya yang
kurus. Sebab, jika ia terlanjur kesal dan memasang ekspresi merah padam, suasana
pun akan terasa mencekik tenggorokan. Persis seperti adegan-adegan mengerikan
dalam film horor.
Cubitan Bu Sekar tengah hari itu banyak memakan korban. Robi yang
terbaru. Bocah gempal itu kena cubit bokongnya gegara berjalan lamban tanpa
dosa.
Setelah kena cubit, Robi lari sedikit, lalu kembali berjalan santai. Seolah tak peduli
dengan isyarat cubitan itu. Bengalnya lagi, ia berjalan sambil menikmati
cemilan begitu tenang. Betul-betul ‘ndableg’ minta ampun.
Bu Sekar kemudian berdiri di kelas paling ujung memantau segala
penjuru. Letak gedung sekolah yang posisinya simetris memudahkannya menangkap
basah siswa yang kiranya masih berkeliaran. Bola matanya mendikte seksama.
Ketika sudah merasa kondusif dan memastikan tiap guru mapel masuk
kelas, ia baru pergi.
Lalu. Ia beranjak menaiki tangga yang berada di pojok gedung, jalannya
lincah sekali kala menapaki tiap anak tangga.
Di lantai atas, seperti biasa, Bu Sekar berdiri di atas balkon, di
depan ruang kelas yang tampak tenang. Ia memang gemar menghabiskan waktu di
sana bila luang. Sebab pemandangan Peranjan dari lantai dua kentara indah
memanjakan mata. Pepohonan rimbun nan hijau di kejauhan, para petani di sawah,
maupun gagahnya Gunung Sidowaluyo dengan jubah awannya benar-benar menentramkan
hati. Ia pandangi damai sembari menyandarkan badan rampingnya pada pagar balkon
setinggi perut itu. Tangannya bersedekap di atas pagar. Beberapa saat kemudian
ia memejamkan mata, bibirnya melengkung indah, lalu hidungnya yang lebar
menghirup udara begitu deras. Seakan sengaja menjaringnya masuk guna menyejukkan
paru-paru.
“ Segarnyaa “ ucapnya spontan seakan tak mampu menahan untuk
mengucap takjub.
Udara di pelosok seperti Peranjan memang masih begitu sejuk. Tak
seperti udara perkotaan yang dicemari asap-asap kendaraan butut atau
pabrik-pabrik beraroma tengik. Kalau di luar negeri setahu Bu Sekar limbah
pembuangan industri diatur ketat agar tak merusak lingkungan. Tetapi di negeri
sendiri yang seperti itu mana mau diatur pemerintah, yang penting cuan banyak
saja sudah cukup. Perkara merusak lingkungan atau tidak itu perkara akhir. Akan
diatasi kalau sudah membeludak orang mendemo.
Di jalanan pelosok Peranjan jarang sekali kendaraan lalu lalang. Para
penduduk lebih memilih naik sepeda atau gerobak bertenaga sapi yang ramah
lingkungan. Selain murah bahan bakar, juga kalau bahan bakarnya terbuang di
jalanan bisa dimanfaatkan untuk pupuk pertanian. Asal tak terpijak, tak akan
jadi masalah.
Bu Sekar lalu membuka mata setelah dadanya terasa sejuk. Lalu
kembali mengamati padi-padi kemuning yang menari-nari disapu angin. Dan juga
birunya sungai yang meliuk-liuk di antara persawahan hijau. Surga Peranjan, selalu
saja berhasil menenangkan pikirannya yang kadangkala kacau. Gaji boleh tampak
pelit namun lingkungan sedamai itu belum tentu mampu ia temukan di tempat lain.
Selain itu Bu Sekar punya janji suci pada almarhum kakeknya, untuk mengabdi
pada sekolah yang dibangunnya setengah mati itu. Ia teringat betul perjuangan
kakeknya sejak pendirian bangunan dari nol besar hingga mendapat pengakuan
negara. Keringatnya yang berkucur-kucur saat itu benar-benar tak bisa ia
lupakan.
Meski nasibnya terhimpit sebagai seorang pendidik, namun mimpinya
luas tak terukur apapun. Tahun ini ia berencana mengikuti seleksi CPNS. Semua
berkas sudah ia persiapkan sungguh-sungguh. Do’a - do’a pun ia panjatkan pada
setiap penghujung malam berharap keberhasilan. Semua ia lakukan demi mendapat jaminan
hidup tenteram. Jika terus-terusan melarat, bagaimana bisa ia menghidupi diri
yang rapuh dan pusaka peninggalan sang kakek?
Di balkon itu ia renungi nasib sembari menyaksikan Pak Udin yang
tampak baru datang ke sekolah. Pak Udin mengendarai motor Astrea hitam klasik.
Penampilannya amat sederhana membuat dirinya kagum pada sosok itu.
“ Sendirian saja Bu? “
Tiba-tiba suara berat dan agak serak menyeruak mengagetkannya. Bu
Sekar pun menoleh ke arah belakang. Suara caplak sepatu pantofel baru saja menuntaskan
anak tangga. Kini berdiri tepat beberapa meter di belakangnya, seorang pria
gagah, berwajah persegi panjang, berkulit sawo matang dan berbadan padat.
Rambutnya disisir rapih ke kanan, gaya klasik. Ia mengenakan batik biru senada
milik Bu Sekar, seragam wajib Hari Rabu.
“Eh iya .... sedang rehat nih Pak “ jawabnya dengan senyum tipis.
***
Udin memasuki kantor Guru yang mati suri. Kantor yang kosong
melompong, baru saja ditinggal Pak Badrun ke kantin. Di sana cuma tersisa kipas
dinding menyala dengan suara gelotek membahana. Ruangan itu cukup luas dengan
pencahayaan alami yang baik, mengingat banyaknya jendela yang ada di sisi kiri
ruangan. Di dalamnya terdapat beberapa meja kerja yang cukup besar dan terlihat
tertata rapi, meskipun terdapat tumpukan buku, kertas dan dokumen yang
menunjukkan kegiatan administratif yang sedang berlangsung.
Meja kerja Udin berada tepat menghadap pintu kantor. Di mejanya,
buku-buku pelajaran dan LKPD menumpuk sembarang. Kalau diperhatikan, antara
tumpukan buku dengan rambutnya yang ikal sama-sama semrawut. Soal penampilan
diri ia memang masa bodo. Mau dikata kusut pun ia tak peduli dan justru bilang
dengan bangga bahwa dengan penampilannya yang sekarang toh banyak perempuan
kepincut tak karuan. Sayangnya perkataan Udin Cuma narsistik belaka. Sikapnya yang
terlalu pede mampus itu terkadang justru membuat orang jijik berinteraksi
dengannya.
Udin membaca jadwal pelajaran yang tergeletak di atas meja. Mencari
jadwalnya pada hari itu. Kiranya jam berapa ia masuk, dan kelas mana? Belakangan
ini ia berulangkali mengecek jadwal sebab khawatir bakal salah masuk kelas
lagi.
Tak lama kemudian Bu Sri Laksmi, rekan seniornya, juga tampak baru
datang. Seperti biasanya, ia memakai jaket hoodie berwarna merah muda yang agak
besar, dengan potongan lengan yang agak lebar. Juga dengan manset biru muda
yang menjorok ke pergelangan tangan.
Ia berjalan menghampiri Udin. Langkahnya lebar petantang-petenteng
bak petugas keamanan. Udin yang tengah fokus mencari bahan ajar sembari
menembang lirih tak menyadari kedatangannya.
“ Pak Udin “ panggilnya.
Udin gelagapan, terkejut seketika. Alunan tembangnya terhenti.
“ Eh iya ... eh Bu? Eh Bu Laksmi “
Tiap kali berada di sisi ibu beranak lima itu, Udin selalu dag dig
dug tak karuan. Bukan karena menyimpan rasa, melainkan gemetaran teringat
hutang yang belum ia lunasi tempo hari.
Sialnya. Keringat di punggung Udin mencucur dingin tak dapat disembunyikan.
Basah kuyup seperti kehujanan. Sebaliknya, kerongkongannya justru mendadak
kering kerontang.
“ Maaf Bu, kenapa ya? “ Udin berusaha lebih sopan. Selain karena Bu
Laksmi lebih tua darinya, juga karena ia takut kena tagih.
“ Saya tuh ingin mendaftarkan Miki lomba menyanyi Pak. Saya lihat
ia punya potensi. Tapi tau sendiri kalau saya menyanyi, suaranya fales sekali. Benar-benar
tak cocok. Sedangkan panjenengan punya suara indah, jadi bolehlah Pak Udin
melatih Miki “
“ Lah? Lomba yang diadakan oleh Dinas Kabupaten Bu? Susah loh Bu,
kan acaranya tinggal dua bulan lagi “
“ Iya. Tapi saya
optimis Pak, Miki pasti bisa tampil maksimal. Pertama karena ia anak yang
telaten, terus panjenengan pun orangnya telaten “
Di sela
perbincangan mereka, seorang murid perempuan datang mengetuk pintu. Keduanya
pun langsung menoleh ke arahnya.
“ Assalamualaikum
“ ucap seorang gadis jelita, berwajah tirus dengan mata biru indah dan berambut
kelabu pendek. Nuansa wajahnya mencerminkan keceriaan.
“ Eh Miki “ sapa Bu
Laksmi pada gadis bernama lengkap Miki Atirgular itu.
“ Maaf Bu. Ibu ada jam di kelas 11 “ katanya sembari pandai menyiratkan senyum.
“ Oh iya iya bentar Miki “
Gadis blasteran itu pun kembali ke kelas dengan langkah ceria.
“ pokoknya bisa ya Pak. Saya minta tolong “ katanya sembari
berbalik pergi.
Udin tak diberi kesempatan menyanggah. Seakan dipatok mati langkah,
harus menuruti kemauannya. Udin pun sejujurnya mau menerima misi itu dengan
lapang dada karena sudah dipuji habis-habisan oleh Bu Laksmi. Maklum, Pak Udin
memang tipikal orang yang mudah luluh dengan pujian.
Udin masih memandangi Bu Laksmi hingga pergi meninggalkannya
sendirian dalam temaramnya ruangan.
***
Yanto melirik jam dinding di atas papan tulis dengan mata sembab.
Jam dengan frame hitam bulat itu menunjukkan pukul 13:00. Masih ada 10 menit
lagi sampai jam pelajaran ke-2 berakhir. Beberapa kali ia menguap lebar seperti
kerbau mengaung. Setelah itu, kepalanya terkulai lemas di atas meja, berbantal
kedua tangan menyilang. Padahal guru siang itu adalah Bu Sri Laksmi, guru yang
sama sengitnya seperti Bu Sekar. Sudah berkepala empat tapi masih puasi segar,
matanya saja tampak jernih sehat. Kulitnya bersih dan
cerah dengan rona sawo matang yang alami. Alisnya melengkung lembut mengikuti
garis wajah. Hari itu ia mengenakan kerudung biru dengan ciput hitam yang cocok
dengan wajah lonjong lugasnya. Tapi Yanto tumben berani sekali menantang maut,
tidur saat mata pelajaran Bu Sri Laksmi berlangsung. Sartika, teman
tongkrongannya yang kini jadi pacarnya itu bahkan dibuat geleng-geleng kepala.
Memandanginya penuh heran.
Sartika memungut kertas bekas dari dalam laci. Merematnya padat
hingga berbentuk bola. Mata Sartika curi-curi pandang pada Bu Laksmi yang
sedang menulis di depan. Merasa aman, ia pun secepat kilat melempar kertas tadi
ke arah Yanto yang terkulai.
Pluk!
Tepat sasaran. Mengenai kepala Yanto. Pacar Sartika itu pun bangun,
lalu melirik ke arah Sartika dengan mata setengah tumpang tindih.
“ jangan tidur oy! “ bentaknya lirih tegas dengan sesekali melirik Bu
Laksmi.
Sartika memang cewek tomboy. Kawan sekelasnya pun heran bagaiman
bisa Yanto memacari macan kampung itu. Apa ia segila itu berani mengayomi hewan
buas?
Untung Bu Laksmi tak sadar.
“ Iya iya “ balas Yanto lirih dengan nada kesal setengah sayang.
Setelah kena lempar sang kekasih, kepala Yanto berhasil menegak
meski terpaksa. Wajahnya masih memasang ekspresi kesal. Sebaliknya, raut
Sartika lebih sumringah seolah berhasil menolong Yanto dari kalut maut guru
killer itu.
Miki, teman sebangku Sartika membisik jahil.
“ cie cie perhatian nih ye “
“ apaan sih Ki, nulis noh! “ ucap Sartika tersipu.
Setomboy-tomboynya Sartika tak bisa menyembunyikan wajah merona malunya. Lucu
sekali.
Melihat wajah tersipu geli kawannya itu tak pelak membuat Miki
cekikian lirih.
“ Ya silahkan ditulis dulu “
Bu Laksmi baru saja kelar menuliskan serangkaian materi BAB 3. Ia
lalu kembali ke tempat duduknya. Merehatkan tubuh setelah mengurus rumah
sebelum berangkat bekerja.
“ Jean kok malah melongo? Ayo cepat tulis! “ serunya lantang hingga
membuat para siswa tertegun.
“ Eh ini Bu sedang nulis “ kata Jean beralasan, padahal sejak tadi,
jelas sekali wajahnya membengong ke luar jendela. Entah apa yang dipandangnya
seksama.
Sesekali Bu Laksmi berkeliling mengecek hasil catatan. Karena
biasanya ada siswa yang tampak dari depan sedang menulis, tapi kenyataannya
justru sibuk menggambar.
Zeen memperhatikannya seksama. Lalu ketika Bu Laksmi melintas di
sisinya ia mencolek pinggul ibu gurunya itu lembut. Bu Laksmi sempat terkejut.
Dikiranya ada hewan merambah tubuhnya.
“ Eh kenapa Zeen? “
Zeen menatap Bu Laksmi datar. Wajah khas eropa dengan mata sebiru
milik Miki itu selalu membuat Bu Laksmi terpana. Sebab alangkah indahnya.
Rasanya seperti memandangi langit biru nan cerah. Meski sikap Zeen dingin dan
terkenal cuek, mahal senyum pula. Tetapi wajah tirus dengan rambut blonde
pendek yang khas eropa selalu menampilkannya cantik jelita. Bu Laksmi jadi
ingin memiliki anak semirip para siswa blasterannya itu.
“ Hodie pink saya mana Bu? “ tanyanya datar seolah tak menyadari
bahwa mengenakan hodie di kelas termasuk pelanggaran. Peraturan itu sudah
sangat umum di kalangan siswa. Tapi Zeen seperti tak memahami sama sekali
aturan yang ada.
Bahkan pertanyaannya membuat seisi kelas terheran-heran. Tak patut
dipertanyakan. Tapi Bu Laksmi, selaku pendidik dan seorang ibu memahami betul
karakter anak didiknya itu. Zeen memang punya latar belakang keluarga yang tak
harmonis. Juga lingkungan yang kurang supportif. Kondisi itulah barangkali yang
membuat kepekaannya mati rasa. Sehingga di mata orang lain ia dilihat sebagai
anak yang tak beretika.
Ketika berbicara dengan Zeen, Bu Laksmi selalu menanggapinya ramah.
“ nanti ya Zeen, ibu kembalikan sepulang sekolah “
Zeen tak menanggapi, wajah lempengnya kemudian beralih ke arah
papan tulis. Ia melanjutkan kegiatan mencatatnya. Meski jujur saja, tulisannya
kusut dan kacau. Bu Laksmi yang melihatnya pun pusing tujuh keliling. Persis
macam cacing-cacing kepanasan.
Setelah meladeni keunikan siswinya, ia berkeliling lagi.
“ Miki sudah? “
“ Sudah Bu “ jawab Miki tersenyum.
Bu Laksmi kemudian berlalu saja. Langkahnya berpadu mengamati para
siswa-siswi yang sedang menulis.
Saat tangan-tangan mencatat telah merehat. Bu Laksmi lanjut
menguraikan materi di papan tulis. Wajah Yanto yang berjuang melek kini berupaya
menyimak meski dengan dahi mengkerut. Alisnya menjengat tinggi. Keringatnya
bercucuran membasahi dahi. Bukan Cuma karena disorot terik yang menggapainya
dari jendela. Tapi karena kepalanya berat dan pusing. Yanto merasa, semakin ia
memperhatikan teori-teori padat di papan tulis. Otaknya semakin tersiksa.
Batinnya pun panas merana. Seolah tak ada ruang di kepala untuk menampung
teori-teori itu.
"Aaah, kepalaku rasanya mau meledak!" gerutu lirih Yanto.
Sedangkan Salman, teman sebangkunya itu justru terkekeh mendapati
Yanto kelimpungan.
“ Oke ditulis
dulu ya bagi yang belum, masih ada sisa waktu sedikit“ kata Bu Laksmi sembari
menyingkir dari depan papan tulis.
Ia menuju sisi jendela dan memandangi keluar. Di sana ia berdiri memijat
pinggang tuanya sambil mengamati pelataran kelas yang terang benderang disorot
mentari. Beberapa saat kemudian, tangan kanannya beralih memegang bahu kiri,
memijat kecil karena pegal. Matanya terus memperhatikan seksama rerumputan yang
mulai menguning kering. Hatinya terasa gelisah melihat pertanda kemarau yang
segera datang itu. Kalau terjadi kemarau ia mau tak mau harus rajin ngangsu
pada subuh dan menjelang maghrib demi kebutuhan rumah. Duh, memikirkannya saja
langsung membuat lelah.
Sehijau-hijaunya Peranjan toh kalau kemarau pasti kering kerontang
juga.
“ Bu! ... Bu Laksmi! “
“ Eh iya iya “ jawabnya gelagapan.
“ Sudah bel Bu “
“ Oh iya, sudah ditulis semua? “
“ Sudah Bu! “ jawab para siswa kompak.
“ kalau gitu kita akhiri ya pembelajaran siang ini. Tapi sebelumnya
catatan tolong dikumpulkan di meja ibu “
Para siswa pun berbondong-bondong menaruh buku mereka di meja
beralas taplak putih bermotif bebungaan biru itu. Mereka menumpuknya tinggi
dalam keadaan berjubel, sehingga buku-buku tak tertumpuk rapi. Bu Laksmi Cuma
menghela nafas sabar. Mungkin Bu Laksmi mampu menahan emosi. Tapi Lahm, sang
ketua kelas, mudah kebakaran jenggot jika ada yang tak tertib. Ia pun berkoar
di belakang, mengingatkan teman-temannya agar merapihkan buku-buku tugas mereka
yang dikumpulkan. Logatnya yang keras membuatnya tampak membentak, meski ia tak
berniat cari perkara. Yanto saat itu sedang ngebut mencontek materi dari buku
Salman. Ia tadi ketinggalan beberapa pembahasan akibat sibuk mengurusi mata
kantuk. Kali ini matanya tajam mendikte setiap paragraf, ditemani Lahm yang
matanya siap menerkam kapan pun Yanto lengah.
Lahm Cuma banyak omong. Kawan-kawannya pun tak menggubris kalau ia Cuma
pandai mengoceh. Habisnya, toh Bu Laksmi juga yang merapihkan tumpukan buku berserakan
itu. Sedangkan ia tampak sekali acuh tak acuh.
TENG!
Suara lonceng tanda pelajaran telah berakhir.
Setelah selesai membereskan buku, Bu Laksmi kemudian menutup
pelajaran dengan salam lalu beranjak keluar membawa setumpuk buku catatan.
“ Yanto, nanti dikumpulkan ke meja ibu ya! “ suruhnya.
Yanto gelagapan menjawab.
“ ba-baik Bu “
Yanto pun memperhatikan Bu Laksmi sebentar, sampai sosok wanita itu
hilang dilahap dinding kelas. Setelah sosoknya pergi, Yanto bukannya
melanjutkan mencatat malah kembali menelungkup di atas meja dengan tangan
bertumpuk. Kelakuannya sungguh kurang ajar.
"Aaah, selesai juga! Penderitaanku berakhir, bung! Jadi, apa
selanjutnya, Man?" tanya Yanto dengan lega.
" Astaga jadwal saja tidak hafal " balas Salman heran.
" Gatau ah. Jadi, apa selanjutnya? " tanya Yanto lagi.
" Jam kedua ya? Emm PKN " jawab Salman.
"Haaah? Bu Sekar dong, aduh!" Yanto kembali lemas,
kepalanya terkulai lagi menunduk lesu. Semua tak sesuai ekspektasinya.
Pelajaran PKN juga termasuk mata pelajaran yang ia benci setelah
mengaji dan berhitung. Siang itu rasanya dunia sedang mempermainkannya. Sungguh
sial. Satu-satunya cara ia keluar dari prahara ini adalah dengan tidur,
berharap ketika bangun, pelajarannya sudah usai. Tapi tak mungkin Bu Sekar yang
galak memberi kesempatan tidur. Bu Sekar dan Bu Laksmi itu bagai pinang dibelah
dua. Sama-sama galak dan tukang ceramah.
“YANTOOO JANGAN TIDUUURR!! “
Teriak mesra Sartika dari mejanya.
“Berisik ih Sar! “ protes Miki sambil menutup kuping.
“Iya iya! “ balas Yanto menjerit kesal.

Komentar
Posting Komentar