Langsung ke konten utama

Kota Lama Semarang

Waiting to Bloom Memo 1


Ad Meliora

 

~ 29 Desember 2025~

Aku melungguh di pinggir pintu masuk stasiun, menikmati pemandangan kendaraan yang lalu lalang di jalan raya Tugu Pancasila. Juga mengamati kerumunan orang memenuhi trotoar sedang bersenda gurau, beriang bersama atau sekedar menyesapi secangkir kopi di kursi taman bersama sunyi. Suasana siang begitu terik, tapi tak menyengat seperti hari-hari sebelumnya. Barangkali karena awan-awan di langit berkutat lama menghalau mentari tuk unjuk gigi. Alhasil kadang ia benderang, kadangpula meredup. Selain itu semilir angin dari wilayah Slawi yang bermandikan mendung petang sesekali menerpa kencang. Udara pun syukurnya sesekali terasa sejuk mengobati kulit yang berpeluh panas.

Siang itu, stasiun sesak ramai. Tak seperti hari-hari biasanya. Heran tentu tidak, sebab sekarang ini memang libur panjang akhir tahun. Pasti banyak orang ingin menghabiskan liburan mereka dengan menjelajah seantero Jawa. Atau sekedar menjajaki tanah saudara di derah jauh sana.

Di antara hiruk pikuk stasiun, aku membaca para manusia yang tak kukenali. Macam-macam raut pengunjung di sana selalu membuatku penasaran. Kiranya hari-hari apa yang telah mereka lalui sehingga corak-corak ekspresi bermacam rupa, ada yang tampak bahagia, sedih atau lempeng begitu hambar. Mataku mengeja seksama tiap gerak-gerik di sana.

Membaca suasana hati seseorang sebetulnya perkara mudah. Meski mereka menyembunyikannya di balik topeng wajah, namun gestur alami tak akan mampu didustakan. Dahulu aku pernah membaca jurnal berjudul “Identifikasi Emosi Melalui Pendeteksian Karakteristik Ekspresi Wajah (Face Expression) Dalam Rangka Mengentaskan Masalah Siswa Melalui Konseling Individual “, jurnal ini ditulis oleh Purnamaningsih. Meski fokus utamanya pada siswa, namun bukan berarti tak bisa diterapkan di muka umum. Misalnya saja, emosi kesedihan bisa dibaca lewat ekspresi yang kentara, mata sayu, berair, alis menyambung dan bibir yang tertarik secara horizontal, bibir bagian bawah tertarik ke atas. Dalam jurnal tersebut dikatakan bahwa itu merupakan contoh ekspresi penuh, namun selain itu juga terdapat ekspresi dimana tidak ada isyarat kesedihan pada mulut dan pipi. Ini dinamakan ekspresi parsial. Sinyal itu hanya ada pada salah satu bagian wajah, yang tidak sama dengan ekspresi penuh.

“Perhatian, kereta api Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasar Turi – Gambir akan segera tiba di Stasiun Tegal pada pukul 15:00 WIB, masuk jalur 1"

Ah informasi dari pengeras suara ...

Spontan aku mengecek tiket di saku, memastikan kembali nama kereta yang akan kutumpangi.

“Blambangan Express, keberangkatan pukul 16:13!” beberapa kali benakku melafalkannya. Seperti orang khawatir bakal lupa ingatan.

Kau tau? Ketakutanku itu bercermin pada pengalaman tempo lalu saat aku duduk di kursi yang salah. Petugas pengecek tiket yang memergokiku turut membantu mencarikan kursi yang benar. Kala itu rasanya sudah seperti jompo yang kehilangan arah, karena dibututi oleh petugas kesana-kemari. Apalagi wajahku kebingungan berpeluh malu. Ah sulit membayangkan bagaimana lukis di wajahku waktu itu.

Saking seringnya jemariku meremat selebaran itu, bentuknya pun berubah jadi berkerut-kerut lusuh. Duh buruk rupanya. Tak enak dipandang.

Tapi mana aku peduli ...

Kutunggu sabar kereta itu datang.

Tiket kuselipkan lagi di saku. Lalu mataku lanjut membaca masyarakat kota yang berbaur mesra. Senangnya melihat raut-raut penuh warna. Apalagi diiringi merdunya instrumen Gambang Semarang yang selalu berhasil membuat bernostalgia. Entah kenapa melodi tradisonal itu mudah sekali menjatuhkanku pada kenangan-kenangan. Alhasil siang benderang yang seharusnya pongah, agak terasa monokrom penuh haru. Tapi tentu semua itu tak kuungkapkan di muka, malu toh pastinya. Bukan apa-apa, cuma takutnya pengunjung lain malah memandangku miris. Lalu membatin sinis. Duh malunya.

 Berkat alunan melodi itu batinku meronta ingin kembali ke masa kecil nan penuh tawa-tawa ceria. Masa kecil itu menyenangkan ya, selalu riang, hidup cuma soal main dan jajan. Apalagi aku sudah mencicipi beragam warnanya hidup. Segala suasana pernah kujajaki. Mulai dari hidup di perkotaan hingga pelosok kampung. Mulai dari hidup di bawah benderang bohlam hingga didekap sinar sentir yang cangcurupan. Cengkerama dengan beberapa golongan pun sudah kucicipi. Mulai dari interaksi dengan orang batak di Tobong hingga orang Jawa dengan krama inggilnya yang membuatku membengong. Betapa manis, asam, asinnya lika-liku hidupku ya. Namun aku sangat bersyukur bisa melintasi jalan penuh corak seperti itu. Berkatnya pandangan dan pikiranku tidak lagi congkak.

Setelah instrumen itu selesai. Pikiranku bergulir ke arah lain, memikirkan kepastian jadwal sidang Proposal Tesis yang sebelumnya sempat tertunda karena ku sakit. Saat itu, aku sempat drop beberapa hari, baik secara batin maupun fisik. Habisnya selama hampir sepekan berbagai tugas kepegawaian menggempurku bertubi-tubi. Kondisinya diperparah pula dengan kebiasaanku yang jarang makan. Alhasil tubuhku mengalah pada tuntutan dan terpaksa terbaring memulihkan energi cukup lama. Orang mungkin melihat aktivitasku sepi saja, namun nyatanya mesin kepalaku selalu berkobar menyortir tugas berhari-hari. Mengkonsep dengan detail tetek bengeknya kapan harus dikerjakan. Soalnya, aku benci tugas yang menggantung, tak beratur dan dipikir kendur. Perkara semacam itu membuat pikiran dan hatiku menduga tanpa henti. Ah lelahnya bukan main asal kau tau.

Saat itu aku sedang mengatur mental. Sebab bejibun beban dalam kepala dan hati menghantui serentak tanpa kompromi. Selain banyaknya pekerjaan, perasaanku juga sedang diliputi kecewa. Kecewa yang berkecamuk membayangiku tiap waktu. Alasannya? Aku gagal mendaftar sidang proposal gelombang pertama. Padahal belasan juta sudah melayang demi membeli kesempatan sidang proposal Tesis itu. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sadar diri tak dapat memaksa takdir mengulang waktu. Yang kubisa hanya mengatur kembali rencana agar kesempatan kedua tak terbuang sia-sia. 

Awal Januari. Kucamkan tanggal sidang itu di kepala, agar tak lagi terlewatkan.

Yakinku, semua akan berjalan lancar berkat do’a kedua orang tuaku semalam. Aku menelpon mereka agak larut untuk mengabarkan terkait pengunduran jadwal itu. Memang tak menyelesaikan masalah, namun melimpahkan curhatan kepada mereka sepertinya berhasil membuat hati lega. Meski sempat debat-debat kecil terjadi tapi hal-hal semacam itu tak menyurutkan kasih sayang apapun di antara kami.

Aku terkekeh lirih jika membayangkan perdebatan itu.

Intinya, orang tuaku bilang umurku sudah 25. Tetapi aku balik menegaskan bahwa umurku masih 25.

Saat ini aku hanya ingin hidup dengan caraku sendiri. Hidup tanpa menerima beban pikiran dan emosional. Hidup bebas laksana komet-komet yang mengarungi angkasa. Tatkala hal-hal reseh datang tanpa pamrih, aku bersikukuh tak meladeninya. Apapun itu aku mana peduli. Dalam persepsiku kebahagiaan ialah sebuah pilihan. Kerja seabreg selalu kuusahakan tak mengundang gundah dan kesuh. Jika pikiranku luruh ke dalam masalah. Maka langkah kakiku bakal pergi menjauh sejenak, mencari alat kontemplasi. Merambahi semesta, bercerita bersama alam, dan meluapkan gundah gulana pada langit biru. Barulah ku kembali bekerja jika urusan pergulatan diri telah usai.

Tapi kebahagiaan mandiri ini rasanya bisa salah langkah. Seolah asyikku berkelana di angkasa luas, tanpa memandang batin-batin di sekitar bisa membuatku jadi solitude esktrem.

“Para penumpang, sesaat lagi Kereta Api Blambangan Express relasi Gambir tujuan akhir Ketapang akan segera tiba di jalur 3 Stasiun Tegal”

Ah keretanya akan segera tiba.

Mataku reflek melirik ke arah papan informasi digital di atas pintu ticket gate. Di sana tertera pukul 16:00 WIB. Artinya 13 menit lagi waktu keberangkatan. Sudah jelas pun, herannya aku masih mengecek boarding pass. Melongoki nama kereta, waktu keberangkatan dan nomor tempat duduk. Kesal sekali pada diriku yang penuh ragu ini.

Petugas Boarding tampak berkeliling sembari berkoar, mengingatkan para penumpang bahwa kereta api jurusan Ketapang sebentar lagi tiba. Wajah kotak dengan kumis goloknya menyuratkan ketegasan tiada tara. Seolah terpasang jelas di wajahnya sebuah instruksi bahwa calon penumpang wajib mematuhi perintahnya.

Aku pun bangkit, memeriksa barang di sekujur pakaian dan tas, guna memastikan tak ada yang tertinggal. Lalu menuju pintu pengecekan tiket. Melakukan scene boarding pass, bergegas ke peron, dan menanti sang kereta. Di atas peron, di depan jalur 3 kuperhatikan ujung rel sebelah barat. Penasaran dengan wujud Blambangan Express yang baru kali pertama akan kutumpangi.

Tak berselang lama kereta pun tiba. Melajur pelan di depan para penumpang. Badan raksasanya perlahan berhenti dengan suara rem yang menekan mulus. Aku langsung menemui petugas peron dan memastikan lokasi gerbong tempatku melungguh.

“ Ekonomi 1 di ujung sana ya Mas “ tunjuk petugas perempuan itu ke arah timur. Ke arah kepala kereta yang sudah berlalu jauh dari tempat tunggu kami.

“ Oh oke makasih Mbak “ aku bergegas masuk gerbong.

“ Ekonomi 1 kursi 17 A ... Ekonomi 1 kursi 17 A ... “benakku terus berdecap, mengingat-ingat lokasi tempat duduk.

Di dalam gerbong, dengan tenang dan santai kuperhatikan nomor-nomor kursi.

Aaah di bawah jendela. Tepat sekali! Rasaku bangga saat tahu duduk di sisi jendela. Tempat terfavorit.

“ Ah 17 A “

Senangnya bisa mengamati pemandangan selama perjalanan.

Tak lama kemudian ...

Suara mesin kereta kembali bergumam. Perjalanan pun dimulai.

Sayangnya, langit mendadak mendung gelap sehingga pemandangan hijau tampak suram tak cukup membuatku melek. Selain itu kebiasaanku pun muncul, tiap duduk di transpotasi mana pun, kantukku selalu mendekap. Akhirnya perjalanan ke Semarang tawang sekitar dua jam kubawa dalam pulas.

***

Dengan mata yang terpejam. Tubuhku masih sanggup merasakan hawa keberadaan sekitar. Seseorang baru saja datang dan duduk di sampingku. Aroma floral dan lembut menyapa hidungku tiba-tiba. Aromanya tidak menyengat, tapi mudah dikenali di kondisi yang tak menimbun banyak wewangian. Mudah saja menebak kalau teman dudukku adalah seorang wanita. Sebab aromanya khas sekali. Entah sekarang pemberhentian ke berapa. Dan stasiun mana saja yang sudah disinggahi. Aku sungguh tak peduli ia naik dari mana. Aku tak mau membuka mata demi hal asing. Namun satu pertanyaan muncul diucapkan oleh suara nan nyaring, berasal dari pita suara yang tipis dan pendek. Pertanyaan itu ditujukan padaku, suaranya dekat sekali. Berdengung di telingaku yang disusupi headset. Aku pun membuka mata guna memastikan bahwa memang aku yang diajak bicara.

“ Lik? Betul kan? “ tanyanya menyiratkan senyum tipis.

Sedangkan aku masih melongo. Wajahnya yang bulat tirus memang rasanya pernah kutemui. Tapi di manakah gerangan aku lupa.

“ oh ...  eh nggih Mbak “ jawabku balas tersenyum namun terbata. Otakku belum siap meladeni pembicaraan kala itu. Dengan bergegas, pikiranku mulai berlari merambahi rekam-rekam pertemuan dalam pikiran.

“ mau main kemana nih? Ke rumah pacar ya?“ tanyanya akrab sembari meletakkan totebag krem di pangkuannya.

            “ hehe jalan-jalan saja Mbak “ balasku formal dengan pikiran masih sibuk menelaah memori.

            “ Wedew, jalan-jalan bae nih kamu Lik “ katanya sok akrab.

            “ mumpung libur panjang mbak  hehe “ namun aku belum merasa nyaman tuk berbicara secara terbuka.

Setelah itu suasana sunyi senyap. Ia tak mengajukan pertanyaan, dan aku pun memandangi langit mendung di luar dengan pikiran masih mereka-reka. “kiranya siapakah dia”. Jengkelnya kalau dilanda lupa. Tetapi memang begitulah cara sistem memoriku bekerja. Ia hanya menyimpan hal-hal yang dianggap penting. Sesuatu yang bermakna. Sedangkan ‘nama’ dan ‘wajah’ dari orang yang bukan golongan “inner”ku, biasanya tak tersimpan dalam memori jangka panjang. Mereka hanya dianggap sebagai angin lalu. Sehingga aku pun lupa.

Hendak kutanya di mana kami pernah bertemu tapi khawatir membuatnya kecewa. Seolah merasa dilupakan dan pertemuan awal itu tak kuhargai. Meski selain itu tuk memulai obrolan nyatanya aku memang malas saja. Ngobrol itu bikin capek.

“ Kabar Mbak Nur gimana Lik? “ mulainya lagi mengajak basa-basi.

Namun justru aku terkesiap saat mengetahui kalau dirinya kenal dengan kakak kandungku. Kakakku adalah wanita yang tak pernah keluyuran kemana pun. Kalaupun punya teman, mesti temannya itulah yang akan datang menyambangi ke rumah. Dan pertemuan mereka hanya sekedar mengobrol saja, tak ada niatan traveling keluar atau berwisata lokal. Bisa dibilang kakakku adalah introvert tulen. Agak serupa denganku.

Lalu, dari semua teman kakakku, jangankan akrab, bertemu denganku saja mana pernah. Maka kemungkinan paling logis adalah bahwa wanita itu pernah bertemu kami berdua secara langsung di rumah. “ tapi kapan? Dan siapa? “. Aku tiada henti meneropong masa lalu. Membaca buku tamu rumah kami dalam ingatan.

“ini anak mbarep saya, dia sekarang di Udinus, kuliah di fakultas kedokteran ... “

Aku ingat sekarang. Satu-satunya wanita asing yang pernah datang ke rumah kami dan bersua langsung denganku adalah anak-anak keluarga besar dari ibuku. Hari itu menjadi satu-satunya momen pertemuan keluarga besar kami berdua. Pada momen hari raya. Setelahnya, silaturahim akbar itu tak pernah terjadi lagi. Wajar saja, karena mereka memang berasal dari Pulau Jawa, sedangkan kediamanku berada di Sumatera. Pertemuan kami terhalang oleh jarak yang jauh nian. Jika memaksa tiap lebaran harus bertatap wajah, rasanya sayang harus menguras kantong demi satu keluarga.

Saat itu pamanku memperkenalkan satu persatu anaknya.

“ Namanya Emilia Artelia Bellinda ”

Begitulah sebutnya.

Aku ingat sekarang.

“ Alhamdulillah sehat Mbak, Mbak Bella sih kuliahnya lancar nggih? “ tanyaku manggut-manggut formal meski telah berhasil menelaah biodatanya dalam keping memori.

            “ Alhamdulillah lancar, Shakila gimana? Sudah mau keluar rumah? “

            “ Yah, masih sama, lebih suka mendekam di rumah “

Anak kakakku itu persis ibunya, plek ketiplek jadi introvert tulen. Dibanding anak tetangga yang gemar keluyuran, ia justrub lebih suka menghabiskan waktu berselancar di layar gadget.

            “ Padahal dulu pecicilan ya “

“ Ah iya sih, kalau ndak diajak main mana mau ia keluar rumah “

            Bella tiba-tiba bersin lirih. Untungnya ia menutup mulut dengan kedua tangannya sehingga mampu meredam suara bersin itu. Lalu ia pun sigap menyeka hidungnya yang mancung dengan selebaran tisu. Benar-benar tak mau orang lain melihat seorang diri Bella yang meler.

            Di sela membereskan hidungnya, aku berpikir sejenak merangkai pertanyaan yang sesuai untuk Bella. Tapi dipikir-pikir sulit juga ya memantik obrolan dengan topik samar. Aku tak tahu menahu apa kegemarannya. Pada pertemuan pertama kami, mengobrol saja tak terbayangkan. Jadi mana mungkin kami paham satu sama lain.

            Jika tak segera memadukan pikiran dengannya, aku bakal terus terpenjara dalam tanya-jawab yang formal. Sungguh tak nikmat bila harus berlama-lama duduk dalam tekanan batin.

            Aku pun mencoba membacanya lebih dalam. Pertama aku harus menentukan dulu, ia tipikal kepribadian yang seperti apa.

            “ Di Semarang tempat mana saja ya yang seru? Kalo menurut Mbak Bella yang mana ya kira-kira yang harus dikunjungi? Sam Poo Kong atau Museum Kota Lama? Eh kalau Sam Poo Kong ramai ga ya? Bentar-bentar, museum Kota Lama bukannya lebih sepi ya enak ya? “ pura-puraku berpikir.

            “ mending Sam Poo Kong, klentengnya bagus tuh. Kalau musim libur begini sih pasti rame-ramenya “ aku suka sekali cara ia menerangkan. Intonasinya selalu seru. Wajahnya pun gemerlap, berhias senyum dengan bola mata berbinar yang membuat siapapun merasa hangat kala berada di sisinya. Tak heran ia mudah akrab pada sekeliling.

            Aku ingin sekali sehangat dirinya.

            “ eeeh ... Mbak sering sendirian kesana po? “

            “ Engga, dulu pernah kesana bareng temen-temen “

Ketika ia berucap “engga” kepalanya menggeleng ekspresif. Bak anak kecil ketika dicecar tanya soal kebohongan. Secuil geriknya itu membuat pertanyaanku terasa berharga dan didengarkan.

            “ Wew Mbak sering rame-rame traveling gitu ya? Maksudku keliling Jawa Tengah “ karenanya aku pun hanyut dalam suasana yang ia buat tanpa sadar. Tanya-tanyaku padanya mulai asyik tanpa lilitan jangkar diskrepansi usia.

            “ hehe ya ga sering juga sih “ tawanya kecil menggelitik dan menebar pesona.

Apalagi bibirnya tampak sumringah sekali. Indah seeksotis bunga mentari.

Aku selalu mengidolakan orang-orang sepertinya yang selalu menebar kehangatan meski dibaliknya kuyakin tersimpan seribu perjuangan terjal. Aku meringis senang kala itu, karena seolah melihat Mas Dwi, panutanku berada dalam diri Bella. Aku jadi ingin membaca mimpi-mimpi saudari jauhku itu. Kiranya seindah apa ya?

            “ Hmmm ...  terus ada museum apa lagi? Oh kalau ga salah ada museum lukisan Semarang Contemporary Art Gallery “

            “ Itu isinya Cuma lukisan-lukisan tau “ jawabnya cemberut seakan tak merekomendasikannya sama sekali.

Tapi aku tetap aku. Museum kontemplasi sepertinya mana mungkin bakal kulewatkan.

Tapi aku pun akhirnya tahu, bahwa cara pemrosesan informasi oleh Bella bersifat sensing. Aku tahu karena Museum lukisan Semarang Contemporary Art Gallery memang sebagian besar karyanya berupa lukisan abstrak. Sehingga perlu intuisi tuk membaca estetikanya. Sedangkan Sensing biasa melihat apa yang tampak saja. Tak paham betapa hebat citarasa dari suatu seni abstrak.

“ Wew seru-seru ya wisatanya. Bentar-bentar, keknya nanti nyantai dulu deh. Cari kafe seru keknya ya. Mbak Bella mau ngopi dulu ga? Saya traktir dah. Mumpung ada diskon nih di aplikasi saya “ tawarku mengendurkan mulut manis.

“ Kafe mana? “ tanyanya membelalak penasaran.

“ Cari-cari dekat stasiun ada ga ya? Jangan yang receh dah “

“ Deh songong nih, lagi banyak duit atau gimana? “ ekspresinya jahil betul, sorot matanya sipit meremehkan. “Loko Kafe tuh kalau mau, ga jauh, tempatnya nyaman pula “ lanjutnya.

“ boleh dah “ kujawab simpel saja, karena aku sudah memperoleh kesimpulan terakhir.

Bahwa ia bertipe Perceiving dan Feeling.

“ Jadi Bella itu ESFP ya ” Kalau berbicara dengan ESFP maka harus memberikan perhatian penuh dan harus antusias. ESFP itu sangat peka terhadap energi lawan bicaranya. Jika aku menampakkan bosan dia pasti akan segera merasakannya. Bagaimana pun aku mesti menunjukkan minat tinggi terhadapnya ketika berinteraksi. Meski jujur, lelahnya bukan main tatkala harus berperan sebagai pemberi respons aktif. Ah malasnya diriku terpaksa berganti peran sementara.

ESFP sering membagikan cerita yang emosional atau personal. Maka aku cukup menjadi pendengar dan pemberi empati yang baik. Jika aku dituntut memulai berbicara panjang lebar maka aku cukup mencari topik tentang tren saat ini, hobi, atau rencana seru yang bisa segera dilakukan.

O iya, seingatku ESFP suka diberi pujian pada penampilannya. Aku pun mencoba praxis teori itu. Menguji kiranya valid atau tidak.

“ Totebag nya kok keren ya Mbak. Beli di toko online kah? “ tanyaku pura-pura antusias.

Benar saja, ia pun tampak bersemangat berbagi informasi padaku.

“ Eh iya nih, aku tuh emang cari-cari yang nine stars korea gitu “

Aku sungguh tak mengerti seleranya pada tren korea. Hingga totebag pun harus mengikuti idola panggungnya yang entah siapa. Tetapi aku enggan menggugat. Setiap orang berhak atas pilihannya masing-masing, selagi tak merenggut hak lainnya. Selain itu aku menyadari sesuatu, kala kami membicarakan nine stars apalah itu, kakinya bergelayutan riang macam anak kecil. Lucu sekali. Sepertinya membahas sang idolanya membuat ia bergembira raya.

“ Oya, main-main ke Jogja dong Lik “ katanya tanpa memandang wajahku. Matanya saat itu sibuk mengamati totebag yang tampaknya menyimpan seribu makna. Bacaku, mungkin dari Mas Teo, kekasihnya yang juga turut di bawa ke rumah kala lebaran lalu. Yang kudengar lelaki berparas brewok itu berhasil meluluhkan hati Bella Cuma bermodal DM mesra saja. Tapi aku tak terkejut. Karena tipe kepribadian sepertinya memang mudah baper. Boleh dicoba, jika bertemu orang persis Bella, kau rayu sekali pasti ia bakal memikirkannya sepanjang hari.

Ngomong-ngomong aku pernah melakukan uji coba terhadap tipe sepertinya. Aku bilang padanya bahwa ada seorang wanita menggosipinya seru. Lalu ia pun mengulikku antusias dengan wajah bermandikan penasaran. Kiranya siapakah yang dimaksud olehku gerangan. Jahatnya aku di hadapan wajah penuh harap itu bukannya menjawab, malah “gguyu” merdu dalam hati. 

“ Juni Mbak, Juni tahun depan insyaallah “ balasku pertanyaannya dengan nada hangat

“ Lama amat? “

“ Lah kalau liburan ini mah gabisa Mbak. Hehe lagi bokek “

“ Minta duid kek “

“ Ke siapa? “

“ Ibu lah “

“ Gah “

“ Juni nanti ada janjian? “

“ Ya engga, saya Cuma ada waktu pas Juni memang “

“ Woke, Mbak tunggu di Tempel “

“ Siap, ajak Mas Teo dah, bilang Mbak nanti kita main ke Watu Turbo gitu “

“ boleh boleh “

Setelah itu kami sibuk dengan HP masing-masing. Aku sibuk mencari tempat bermalam, sedangkan Bella sibuk menanggapi chat teman-temannya yang kesetanan ingin nongkrong. Sebenarnya sangat mampu kulanjutkan obrolan itu. Namun aku sudah lelah dan enggan terlalu menyelami dirinya yang mudah dieja.

Begitulah kiranya terkadang aku menolak kontak mata dan mengekang pandangan agar tak jelalatan pada tiap orang yang kukenal. Karena aku bisa membaca mereka begitu dalam, bahkan sampai ke dasar batin sekali pun.

“ Lik, kalau kamu ke Semarang sore begini, nanti emang mau nginep dimana? Punya temen po di sana? “

Masalah merehat sebetulnya mudah saja bagi pria, asal meleseh di sembarang tempat toh tidur juga. Biasanya pun aku tidur di masjid atau di kursi tunggu stasiun. Masalahnya, jika kusampaikan jujur ke Bella, khawatir ia akan mengadukan keegoisanku kepada ibu-bapak. Tahu kedua orang tuaku amat protektif, pasti rencana kelayapanku di masa depan bakal tak diridhoi. Duh bahayanya. Sesuatu yang tidak diridhoi orang tua mau bagaimanapun bakal mendatangkan celaka kalau nekat diterobos. Sebab aku sudah beberapa kali merasakannya. Tapi kalau berbohong juga pasti membuat payah karena harus pintar-pintar menutupinya dengan bla bla bla ke depannya.

“ hehe masih nyari “ kataku meringis seperti orang bodoh.

“ Halah kok bisa? Pergi kemana-mana tuh harus persiapan loh Lik! “ ucapnya kesal sembari mengetik sesuatu dengan sentuhan menggebu.

“ Nah nih Mbak kasih nomor temen Mbak ya, nanti kamu kesana aja wis. Sekalian Mbak kirimin map-nya. Dia punya penginapan, nanti Mbak coba nego buat kamu “ lanjutnya mulai tenang.

“ Oh oke Mbak “ kuperhatikan ia mencari kontak Whatsappku di grup keluarga besar. Dengan foto profil yang jelas menampilan wajahku, mudah saja baginya menemukan.

“ Nih ya “ kliknya.

Ping!

Sekejap pesan itu mengalir masuk handphoneku.

***

Pukul 18:10 WIB. Suara pengumuman menggema di sepanjang lorong gerbong. Sebuah informasi bahwa kereta sebentar lagi akan tiba di stasiun Tawang. Aku yang sudah terbangun beberapa menit lalu coba mengusap mata. Setelah Bella mengatakan bahwa dirinya tak bisa menemaniku ke kafe karena ada acara mendadak dengan kawan-kawannya, aku pun terlelap bersama lantunan lagu Fauzana. Aku mengucek mata beberapa kali. Karena Bella masih duduk enerjik di sisiku, aku berharap tak meninggalkan sembab yang memalukan. Sepanjang lintasan kutengok sesaknya rumah penduduk (masih sambil mengucek mata). Sepanjang jalur kulihat area perkotaan nan padat-pengap dan sibuk.

Inilah Kota Semarang. Ibu kota Jawa Tengah. Aku pun bersiap, mengecek Maps yang diberikan Bella guna mencari lokasi tepat penginapan itu. Jujur saja, aku sempat membandingkan penginapan rekomendasi Bella dengan penginapan lain di sekitar Kota Lama. Namun agaknya aku kesulitan mendapatkan penginapan dengan harga yang lebih miring. Yah wajar kupikir, di tengah kota besar dengan area wisata yang ramai pengunjung seperti ini harga-harga hotel pasti tidak bakal ekonomis di kantong kaum mendang-mending. Sedangkan penginapan milik kawan Bella herannya bisa jomplang tak waras. Aku sempat geleng-geleng kepala, alangkah hebatnya wanita itu menawar dengan harga tak wajar. Salut nian aku padanya.

Aku senang bisa mendapatkan penginapan dengan ongkos murah meriah. Padahal sebelumnya berniat ngemper di sekitar stasiun, seperti yang pernah kulakukan setahun lalu saat hendak ke Surabaya.

Alangkah mujurnya hidupku. Modal gocap saja sudah bisa tidur di kasur empuk. Sisa uang bisa untuk berlibur ke wisata lain jadinya.

Seperti saran Bella tatkala kami hendak berpisah di stasiun, “ hubungi dulu kontaknya “. Ia menungguku di pintu keluar guna memastikan jika aku benar-benar menghubungi kawannya itu. Sudah seperti orang tua yang mengawasi anak saja. Membuatku malu di antara sesaknya lalu-lalang penumpang.

Setelah ia mendengar suara kawannya berhasil kuhubungi ia pun memberi salam perpisahan. Sedangkan aku mulai menuju lokasi melalui petunjuk GPS yang dikirimkan Bella lewat Whatsapp.

“Heh?! “ sempatku tercengang kala berjalan keluar dari area stasiun.

Sebab, saat aku mengakses lokasi beserta galeri penginapan itu. Tampak dari depan hanya sebatas ruko kecil dengan pos reservasi bertuliskan ‘HOTEL D’ZEO’. Pikirku, hotel macam apa ini? Papan plang nama hotelnya saja kentara tak niat. Yah, kuralat, agak sedikit niat sih. Walau jelas tampak dipasang dengan malas, tapi kuputuskan untuk menyelidiki sendiri. Rasanya belum yakin kalau tak langsung melihatnya. Boleh jadi covernya ugal-ugalan tapi dalamnya punya fasilitas lengkap kan? Begitu tingginya ekspektasiku.

Dengan penuh percaya diri kutapaki sepanjang trotoar pinggiran Kota Lama dalam malam yang masih berpesta. Hmm seru juga berada di kota yang malamnya senantiasa hidup. Hatiku pun tak kosong ketakutan.

Sekitar 1 KM kutapaki jalan bersejarah itu. Akhirnya aku pun sampai di penginapan D’ZEO, namun dengan mengernyitkan dahi, “ Uuh sama persis dengan di Maps! “. Berasa tanpa kehidupan. Atau lebih mirip tongkrongan anak jalanan. Petugas reservasinya seorang perempuan, berambut panjang pirang, berwajah judes dan perokok aktif. Tak sedikit pun terpampang ramah pada gerak-geriknya, menyambut ramah saja ogah.

“ Mbak Bella temannya beginian bentuknya? “ Ujarku heran dalam benak.

“ Nomor 105 “ ucap si pemilik dengan jutek sembari menyodorkan kunci kamar padaku.

“Mbak Bella menawar dengan harga atau gimana ya? Sampai kawannya sendiri ketus “

Kuraih kunci itu lalu mencari kamar dengan label nomor yang dimaksud. Karena ruangannya sedikit jadi cukup mudah menemukannya.

Klek!

Pintu kamar itu berderak ketika dibuka. Berat, seperti kendur ke bawah.

Di dalam.,,

Kamarnya kutengok cukup nyaman. Kamar 2x3 dengan fasilitas ranjang tidur, tv, AC, kursi kecil dan 1 toilet seuprit yang masih mending dibandingkan rumahku di Umbul Ngatim. Kondisi kamar itu dingin membeku dengan suhu 23°. Aku yang pilek secara alami menaruh benci. Suhunya kunaikkan jadi 30°. Agar sedikit bersahabat dengan badan yang melengos ini.

Pakaian kutanggalkan, tas kutaruh di atas kursi, dan TV kunyalakan. Kulihat jam digital pada layar telepon.

“ Jam 9 ya? “

Badanku yang sudah begah dan lunglai merongrong meminta rehat. Aku pun mulai berbaring telentang sembari menonton acara lawak. Tontonannya sebetulnya mengasyikkan, namun mataku perlahan buyar digoda kantuk hingga meninggalkan TV mengoceh sendiri. Meski sempat tidur di kereta, tapi jujur tak membuat badan merehat nyaman sama sekali. Mungkin karena posisi tidurnya memang tidak idea ya.

***

“ Waduh! Jam 6 lewat 10?! “ aku baru saja bangun dan langsung panik.

            Niatku hari ini menjajaki Kota Lama sebelum matahari terbit. Karena pada suasana pagi buta jalanan kota pastilah lengang. Sangat cocok memotret view yang estetik. Tahu telat, aku pun bergegas mencuci muka, menyiapkan HP, kemudian keluar kamar, memakai sepatu dan berlari kecil menuju pusat kota. Dengan nafas terengah kukejar momentum yang telah kudambakan lama.

            Syukurnya, meski mentari sudah lebih dulu menjamah gedung-gedung klasik di sana, suasana kota belumlah ramai. Hanya para wisatawan lokal yang sesekali tampak melakukan joging ringan. Adapula yang berselfie dekat taman Metropolitan. Selama berburu pemandangan ikonik bergaya eropa klasik itu mulutku spontan sumringah megah. Alangkah kagumnya hati ini mampu menjamah tanah dengan sejarah seribu bahasa. Kulihat, beberapa gereja monumental gagah berdiri. Arsitekturnya retro dengan warna dominan putih krem atau merah kecoklatan. Kesannya benar-benar jadul. Toko-toko modern pun tetap mempertahankan gaya ala Belanda pada desainnya. Unik sekali. Jiwaku kegirangan berada di tengah saksi sejarah kolonial yang masih asri.

Kereen!

Aku pun berkeliling kesana-kemari dengan besar hati. Mengabadikan megahnya Gereja Bleduk, Yayasan Kanisius, kawasan gedung kuno, Museum Kota Lama dan Rumah Akar yang unik. Tapi sayang seribu sayang. Aku tak bisa berlama-lama menjepret rumah yang diselimuti akar beringin itu. Sebab gedung besar yang berada 5 meter di depannya sudah dipalangi garis waspada. Terpampang pula label besar pada tiap sisi dindingnya bertuliskan “ Hati-Hati Bangunan Mudah Roboh “. Pantas saja, rumah yang berada di gang sempit itu tampak sepi saat kutengok dari ujung jalan.

Meski begitu kuupayakan mendapat satu atau dua foto sebagai saksi perjalanan. Lenggak-lenggokku memotret kawasan paling instagramable itu khidmat sekali. Mau dikata bangunan di belakang mengerang runtuh pun aku tak dengar. Setidaknya aku mendapat potret-potret elok yang cocok dipajang dalam galeri digital. Lalu, harapku pada masa depan nanti, bukti-buktinya membuatku teringat bahwa liburan ke Semarang merupakan hadiah besar Tuhan tuk segala pelipur lara pada akhir tahun 2025.

Kaki-kakiku mungkin tampak menapak sendiri, namun langitku penuh do’a dari orang-orang terkasih dan Tuhan selalu membayangi kemana pun aku mengembara ringkih.

 

~ Selanjutnya: 2026 – New Horizon ~

 

Bip!

Suara notifikasi HP ku.

Kelihatannya Ismi, adikku mengirimkan satu pesan WA.

Kubuka pesan itu ...

“Mas, Mamak minta foto-foto di Semarang (disertai emoticon meringis) “

Aku memandangi pesan itu datar menyimpan kekesalan.

Sebab Bella sepertinya bermulut ember. Ia pasti meracau heboh pada Ismi.

“ Astaga! “.

Komentar

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.