Thaumazein
~ Januari 2026 ~
“ Dari mana Mas? “
“ Njenengan kemana aja hari ini? “
“ Njenengan dari mana Mas? “
Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang memadati benakku hingga sesak.
Batinku kesal bukan main. Lantaran, lagaknya bertanya macam punya otoritas saja. Toh mau kelayapan kemana pun
terserahku bukan? Asal bukan di waktu kerja. Lagipula hari ini ialah hari
libur semester. Para santri sudah pulang sepekan lalu. Para guru lain pun minggat bebas dengan urusan masing-masing. Bisa-bisanya pertanyaan dan gerak-geriknya itu membututiku
seharian penuh. Astaga, ada-ada saja.
Kali ini pertanyaannya kujawab ketus.
“ Kenapa sih Pak? Ada yang nyari saya po? “
Dalam kondisi normal biasanya tak kujawab nyelekit. Hanya saja kala itu badanku sudah letih mampus. Pikiran dan badan sudah berkelebat habis-habisan selama kuliah. Jadi, emosiku yang sedang tak stabil menanggapi basa-basi tak penting itu berselimut kekesalan. Kesabaran memang tidak ada batas, tapi terkadang mengurusi sesuatu yang seharusnya tak perlu diurusi itu menguras emosi.
“ Ya engga, kirain kemana “ jawabnya petantang-petenteng.
Jawaban yang mudah saja kutebak. Menjengkelkan.
Maksudku, boleh saja mencariku jika ada hal penting atau ingin
hendak mengobrol santai. Namun, bukan berarti harus mencariku di segala penjuru
pondok seperti seorang pemantau. Lalu? Sudah itu tok, sekedar memastikan
keberadaanku lalu pergi. Seolah memperlakukan bocah yang mesti diawasi 24 jam.
Aneh.
Hal semacam itu mirisnya sudah berulang kali terjadi.
Bah, kurang kerjaan!
Setelah itu aku pun melepas sepatu lalu merebah di kamar. Alangkah letihnya
sekujur badanku, sendi-sendi pun meronta lunglai, apalagi pikiranku seperti
terbakar habis. Akibat bergulat dengan komentar-komentar dosen tentang proposal
Tesisku yang baru saja disidangkan. Juga dengan pembahasan tak penting tadi. Merepotkan.
“ yang penting selesai dah “
Ucap batinku lega.
Sekarang hanya perlu fokus menyelesaikan tesis dan mengejar sidang
munaqasah pada Juni/Juli mendatang.
Sekarang aku hanya perlu tidur tuk mengembalikan energiku yang
tersedot hiruk-pikuk di ruang sidang tadi.
Maunya begitu. Namun pertanyaan-pertanyaan receh dari orang itu
masih saja menghantui. Ampun sekali. Sampai-sampai aku teringat momen
menjengkelkan dari santri yang setipe dengannya. Namanya Aan. Tipe yang suka
basa-basi merepotkan.
Momen
itu terjadi pada Ujian Tengah Semester
Ganjil, akhir tahun kemarin.
Saat itu aku mengawas di ruang 3. Sebuah ruang kelas nan temaram.
Suasana temaram itu gegara mendung yang entah kenapa di akhir tahun mesti gemar
sekali membokongi mentari. Pemandangan di luar nan suram membuat pandanganku
tak betah dan segera beralih membaca para santri yang duduk khidmat. Mata para santri
alangkah seriusnya melumat lembar soal yang baru saja dibagikan. Beragam
ekspresi mereka pamerkan. Ada yang mengernyitkan dahi. Ada yang menjungatkan
alis. Adapula yang berdesis memisuh. Seolah berkata “ Soal macam apa ini?!
“.
Aku menikmati betul raut-raut terkesiap yang terpampang dari
beberapa santri. Mereka duduk diliputi bingung dengan tangan kiri menopang
kepala yang sudah berat menghafal bejibun materi semalam. Tetapi adapula yang
memandangi datar lembar soalnya, seperti “ hendak dijawab bagaimanapun rasanya
percuma”. Barangkali apa yang ia pelajari semalam meleset jauh dari soal yang
sudah diprediksinya penuh percaya diri.
Di tengah sunyinya perang sumatif itu, Johan, salah satu siswa
kelas 9 yang terkenal pandai bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya tampak
kelimpungan, jelas memendam penasaran. Lalu ia menghampiriku santun.
“ Afwan (maaf), Tadz “
Johan menyodorkan lembar soal sembari membungkukkan punggung begitu
sopan.
“ Mau tanya terkait soal Tadz “ katanya lembut.
“ Oh oke mana yang bingung? “
Aku balas menanggapinya setara.
“ ini tadz “
Tunjuk Johan pada salah satu soal dengan ibu jarinya.
“ eksplanasikan kerangka-kerangka sosialisme secara definitif “ bacaku dalam hati.
Sebuah pertanyaan berbahasa tinggi yang barangkali belum dipahami
dengan baik oleh Johan. Atau justru dia lupa? Mana kutahu.
Aku pun menjelaskan kembali soal itu dengan bahasa yang mudah
dimengerti oleh awam sekalipun.
Johan untungnya anak pandai. Baru sepatah-dua patah kata yang
keluar dari mulut gurunya pun ia segera mengangguk paham. Seolah langsung menemukan
jawaban dari soal yang dimaksud.
Setelah kuterangkan detail, Johan kembali duduk di kursinya.
Diiringi wajah-wajah teman sekelasnya yang menodong penasaran. Kini raut Johan
lebih hidup, sumringah dan cerah. Ia pun menjelaskan maksud pertanyaan itu
begitu lihai dan jelas. Padahal aku sendiri baru saja hendak menerangkannya
pada yang lain. Tapi kalah tanggap dengan Johan. Yasudahlah.
Aku pun kembali mengawas jelalatan. Memantau gerak-gerik santri dari
sudut ke sudut. Macam CCTV yang bisa tengok kanan-kiri.
Tak berselang lama, salah seorang santri kembali bangkit mendekap
lembar soal.
Kali ini Aan, adik kelas Johan, yang menyambangiku ke depan. Herannya,
ia tak membawa wajah yang kepayahan atau memendam kebingungan. Melainkan datar,
santai dan tak tampak masalah apapun.
Namun coba kutanya guna memastikan, sebetulnya ia ingin bertanya
atau justru ingin izin ke kamar mandi.
Seperti biasa. Aan cengar – cengir sembari menyerahkan lembar soalnya
padaku. Perilakunya itu malah membuatku makin heran serta menaruh curiga.
Tetapi sebagai pendidik tentu kurespon dengan ramah antusias. Tuk menghargai
perasaan bocah yang begitu lugunya.
“ Mana yang belum jelas An? “ tanyaku menyiratkan senyum mulia.
Meski benak masih curiga.
“ Nomor 9 Ustadz “ katanya.
Alih-alih menunjukkan nomor soal. Jemarinya justru sibuk menggaruk
kepala seperti orang kebingungan. Padahal sebelumnya ia datang tak tampak
membawa beban kehidupan.
Wajahnya masih cengar-cengir.
“ Pada tahun berapa Dinasti Abassiyah runtuh? “
Aku membaca soal itu dalam hati.
“ bagian mana yang belum jelas memangnya? “
Dalam batin aku terus menganalisis pertanyaan itu berulang kali.
Mencari pada bagian mana yang membuatnya payah setengah mati.
“ jangan-jangan ia tidak paham istilah Dinasti ya? Tapi masa sih
Dinasti saja tidak tahu? tidak mungkin deh. Eh eh bisa jadi ding. Hmmm ... banyak santri mungkin belum memahami makna
dinasti ya? “
Aku adalah tipe orang yang selalu memikirkan sesuatu secara detail,
menyeluruh dan mendalam. Wajar jika aku menganalisisnya cukup lama. Setelah
menemukan kata yang janggal aku pun memastikan lebih dulu pada Aan, apakah
istilah itu yang membuatnya bingung? Namun lagi-lagi kudapati dia berdiri di
depan mejaku seperti bukan orang yang sedang menunggu jawaban. Seolah apapun
yang keluar dari mulutku rasanya tak penting. Yang jelas cengar-cengirnya masih
dipertahankan.
“ ente tanya bagian mana sih An? Mana yang membuatmu bingung? Kata
‘dinasti’ ini ya? “
Tanyaku mengernyitkan dahi.
Aan kemudian menjawab dengan polosnya sambil menggaruk kepala.
“ hehe saya bingung jawabannya apa Ustadz “
“ LAAAH!!! KOK MALAH TANYA JAWABAN “
Aku tercengang bukan main saat mendengarnya.
Komentar
Posting Komentar